Dapet info dari temen, banyak yang ngomongin klo tami sakit KANKER OTAK! masya Allah.. Dapat info dari mana sih? aku aja baru denger ini. Kok bisa2 nya…
 

Anyway.. Tami ga sakit kanker otak. Dari ronsen terakhirnya, hasilnya tuh putih, parah banget..and that’s a symptom of pneumonia. apa itu pneumonia? silahkan search google n wikipedia.
 

“I’LL not tell you about the non medical ones! that’s the family prerogative..”
 

kemungkinan tami udah mulai sejak setahun yang lalu, ini sms nya setahun yang lalu..(semua sms2nya dari bulan maret 2007 masi tersimpan di hp ku..)
 
 

a', adek kok nyesek ya? batuk2 n susah nafas..dah gitu pusing banget..
 
 

sejak saat itu, tami mulai sering sesak nafas dan tak bisa tidur karenanya. Saya hanya bisa menyarankan ayo ke dokter dek… tapi saat itu dokter hanya menyatakan Tami hanya batuk biasa, tanpa perlu ronsen lagi. Saya sebagai orang yang cukup rasional dan berkali-kali diselamatkan dari kematian oleh dokter, ya percaya saja. Memang terkadang Tami tak merasa apa-apa, terkadang sehat sekali, terkadang berat sekali nafasnya, tapi dia mulai tak bisa beraktifitas berat lagi. Berkali-kali dia membangunkan saya via telepon setiap malam, bilang dia tak bisa tidur karena sesak nafasnya, dan minta ditemani. Astaghfirullah…Menangis diriku setiap ku ingat masa itu..
 
 

i detest myself for not discuss this with my brother.. He's a doctor too, for godssake!!
 
 
bahkan, sebulan sebelum wafat, Tami dibawa ke rumah sakit dijakarta karena demam tinggi dan sesak. Lagi-lagi dokter tak menemukan sumber penyakitnya. Padahal tanda-tandanya sudah ada: sesak nafas, batuk berdahak hijau, kadang beserta darah, demam, dan hemoglobin dibawah normal.
 

Tami tak menyukai dan mempercayai dokter, karena selama ia sakit sejak setahun yang lalu, dokter tak mampu menyembuhkan sakitnya. Sehingga saat saya dan keluarga memintanya untuk ke dokter, dia pasti menolak keras.Yah, dia sangat keras kepala, memang begitulah Tami. Alasan yang saya sesali..
 

Saya tak mau menyalahkan dokter, toh dokter juga manusia bisa salah juga. Selain itu saya juga bukan dokter, tapi tau sekali beratnya menjadi dokter itu.
Saya hanya bisa menyalahkan diri sendiri, sebagai orang yang cukup tahu mengenai sakit pernapasan (beberapa kali opname karena asthma dan bronkitis). Tidak memaksa Tami untuk segera ke dokter lagi minta di ronsen. Tidak memaksa, hanya menyarankan Tami untuk melakukan ronsen sampai akhirnya akhir oktober kemarin ronsen, dan tak mengontrol dirinya setelah ronsen untuk memberikan hasil ronsen nya ke dokter. Seandainya saat hasil ronsen keluar lalu diberikan ke dokter, mungkin sejarah akan lain.
 
 

Tapi Allah memang berkehendak lain..
dan Saya hanya bisa menyesalinya dan menangis tanpa daya selain mendoakannya..
Sambil memaksa diri ini untuk ikhlas, agar Tami tenang di alam sana..
 

« »