Pernahkah anda mengalami, atau ditanya, misalkan orang yang anda kasihi (kekasih?) tiba-tiba divonis dokter bahwa usianya tinggal beberapa tahun lagi? Atau beberapa bulan lagi? Atau beberapa hari lagi? How will you react? Akankah kamu meninggalkannya? Dengan alasan bahwa there’s no future at that relationship ? Dengan alasan takkan ada pernikahan, anak, ataupun seandainya ada, biaya-biaya yang akan dikeluarkan dan hal-hal lainnya? ataupun alasan-alasan lainnya?

Kalau saya ditanya hal seperti itu, of course, yang saya pikirkan pertama kali adalah apa definisi dari orang yang anda kasihi? Kekasih, anyone? Bagiku, orang itu sudah kupilih sebagai orang yang kukasihi. Tidak sulit untukku memutuskan, “i’ll stay”.

Kenapa? Bukankah tidak ada masa depan didalam hubungan itu?

Mmm.. Masa depan? So what? Bagiku, kenangan yang akan datang juga merupakan masa depan. A treasured memories. Hey, that’s not a bad gift. It’s something you can be proud of.

Gak takut?

Takut itu pasti. Siapa sih yang rela se-rela-relanya buat kehilangan seseorang yang ia kasihi? There must be a bit of regret, and sorrow. Sedih itu wajar, menunjukkan kalau kita memang mengasihi orang tersebut. Sedih itu wajar, karena kita manusia, sekaligus membuktikan kita masih manusia.

There's almost no logic in love..
Kebanyakan orang ‘kehilangan’ alias tak menggunakan logikanya ketika mencintai. Apakah dia orang pintar atau bodoh, cantik ganteng atau jelek, kaya atau miskin, status, jenis kelamin, apalagi pekerjaan ataupun agamanya. Apakah itu saya, kamu, ataupun mereka.

So, do you know that we often lose our logic when we’re in love? Do you even realize how stupid you may react when it comes about love? Membuang logikamu dan membiarkan emosi hatimu yang berbicara?

Do you?

Jujur saja, saya selalu merasa bodoh ketika sedang jatuh cinta. Lupa bahwa di dunia selalu ada konsep yang berlawanan. Heaven and hell (well, ini bukan di dunia ehehehe..). Up and down, good and bad. Dan pastinya.. Happy and sad.

Bahagia ketika cinta sedang asyik bermain-main dalam setiap kedipan mata saya.
Lalu sedih ketika cinta itu memutuskan untuk pergi meninggalkan saya.

Bodoh kan? Seharusnya kita bisa menggunakan logika kita. Bahwa dengan memiliki cinta itu tak selamanya bahagia.

Nah apakah saya bodoh, saya tak mau beranjak pergi, saat kekasih saya yang saya cintai tak lagi berada di dekat saya karena pekerjaannya nun jauh di pulau seberang, tidak bisa sebebas tahun-tahun dimana dia selalu mengutamakan diri saya untuk bersama, kemana saja, kapan saja, bahkan tanpa tuntutan atau aturan apapun dari saya, bahkan setelah balik menuntut saya untuk melakukan hal-hal yang dia inginkan?

Apakah saya bodoh, saya tetap bersamanya dan memberinya kebebasan, bahkan setelah dia pernah saya ketahui bermain api dengan teman SMPnya? atau teman kerjanya? Ketika saya tak bisa memberinya banyak waktu saya karena kesibukan dan jarak kami berdua. Dan akhirnya mengakui perasaannya sendiri dan memohon maaf?

Apakah saya bodoh, mengubah semua kebiasaan saya hang-out dengan teman-teman, jalan-jalan, hunting foto, dan memilih berkunjung ke kos nya hanya untuk duduk berdua bertukar pikiran ataupun menikmati film atau anime di layar komputernya?

Apakah saya bodoh, memilih untuk menemuinya dari pada bersama orangtua dan saudara-saudara saya, bahkan pada saat waktu lebaran dimana orang lain berkumpul dengan keluarganya?

Apakah saya bodoh, berusaha berhemat gaji bulanan saya, berpuasa seninselasarabukamissabtu™ agar bisa menabung dan bisa bersamanya saat liburan tiba hanya untuk sekedar bisa melihat senyumnya, hanya agar bisa memeluknya, memberinya segala waktuku untuknya di waktu libur yang sempit itu?

Apakah saya bodoh, sekali lagi membuang logika saya dan membuat keputusan-keputusan yang dikendalikan oleh hati saya?

Call me stupid. Idiot. Everything. Terserah..

Silahkan katakan saya bodoh hanya karena saya memilih untuk dapat menghabiskan waktu dengan orang yang saya cintai, yang harum tubuhnya sangat saya kenali, yang selalu memberikan saya keberanian dan semangat dalam menghadapi segala masalah saya, yang selalu memeluk dan mencium saya sembari memberi sugesti dalam hati bahwa segala risau akan pergi?

She Always be the source of my strength..
How could i leave her, ketika dia juga selalu memilih saya, bukan ibu dan Ayahnya, bukan Kakak-kakaknya, bukan teman-temannya, melainkan hanya saya yang yang sudah hafal betul tingkah lakunya, matanya yang indah, senyum manisnya yang selalu membuatku tenang dan ingin memeluknya, tawanya yang khas yang selalu membuatku gemas, and every moments without words yang penuh kalimat cinta di udara?

I would stay. There’s no real reason. Hanya berpikir, bagaimana jika aku yang sakit, and she’s gone leaving me in my worst times, it’s the same as killing me two times. So? I would stay. Tak peduli dengan pikiran “what if she dies tomorrow.. What if she dies.. What if tonight, when i come to visit her, she’s gone in her sleep…”

Saya akan berpikir, saya juga manusia. Bisa kapan saja dipanggil oleh yang Maha Kuasa. Mungkin saja, walaupun dia sudah divonis hanya memiliki umur sekian, tapi saya yang lebih dulu dipanggil oleh-Nya.

Itulah kenapa saya tidak ingin pergi. Itulah kenapa saya akan memilih untuk tinggal di sampingnya, merajut momen-momen indah yang akan menjadi kenangan manis kami kelak. Bisa kenangannya tentang saya, bisa kenangan saya tentang dia.

and you know what, next, is the real story..
i did not leave her..

Saya tidak pergi. Saya tetap bersamanya.

trust me, sangat berat ketika melihat tubuhnya yang dulu gemuk berisi menyusut dari hari ke hari karena gerogotan penyakitnya. Melihat matanya yang biasanya lincah dan sering menggoda saya suram pada wajahnya yang pucat. Merasakan tangannya tak lagi mampu mengenggam erat tanganku.

Saya selalu berusaha menghabiskan waktu seindah mungkin berdua dengannya, berusaha bersenang-senang, berusaha tertawa..

And then she dies…
She did see my face, as the last face she sees…
She did hold my hands, as the last hands she holds…
She did see my smile, as the last smile she sees…
and i did see her smile, as the last smile i seen from her…
and then i know…
Saya tahu bahwa saya telah melakukan yang saya bisa untuk membuatnya bahagia, di sepanjang sisa umurnya…

Saya, seorang laki-laki, yang tersenyum di antara isak tangisnya karena menyadari satu hal :
That in the whole life time God’s given to him, at least, He has made one right-perfect -clever decision…

*Celebrating 5 years since i know you..

**Terinspirasi dan *tentu saja* menulis ulang dengan pengalaman sendiri dari tulisan mbak lala*how could i write that beautiful words. Obviously that words not from me Big Smile*. Terlalu banyak hal yang menyentuh hatiku dari tulisannya hingga saya tanpa sadar juga menulisnya disini.

***Sangat tak terbayang jika yang hilang adalah cinta dari yang di Atas. Alhamdulillah saya masih hidup dan masih mendapat nikmat-Nya. Semoga cinta Allah tak pernah hilang dari kita. Aamiin..

« »