Hmm.. Akhir-akhir ini, banyak sekali uneg-uneg dan pikiran di kepala ini yang minta ditumpahkan, mengosongkan sel-sel otak yang udah jenuh ditempatinya. Hanya saja, script yang udah disiapin di pikiran selalu buyar setiap kali mata sudah menghadap layar dan jari sudah menyentuh keyboard. Heran deh, susah banget bisa masuk ke kondisi trance buat nulis lagi. Padahal kalo lagi trance, tulisannya bisa jadi dalam satu tarikan napas *boong dink hahahaaa*.
Mungkinkah aku sudah terlalu jenuh? Atau karena tulisan ku bukan lagi sebuah ekspresi kesedihan hati yang telah ku kubur dalam-dalam demi melanjutkan hidupku? Hmm, harusnya sama saja ya, karena aku selalu nulis apa yang kupikirkan. Atau apakah aku sudah menjelma jadi sang penulis khusus tulisan mellow yang sukses membuat beberapa orang menitikkan air mata? Sehingga saat mau menulis yang seneng-seneng ya ga jalan hahaa. Nggak juga sih. Aku lebih ingin jika aku bisa menulis tulisan yang membuat orang lebih bersemangat dan gembira, daripada menulis tulisan yang bikin orang nangis. Tapi kalau aku lagi jenuh, gimana bisa membuat orang gembira ya? hahahaa..
Dalam posisi jenuh ini, aku teringat dengan salah satu pesan terakhir seseorang padaku. “Apapun itu, hadapi dengan senyuman ya..”.
Ya, senyuman. Aku inget pada pengalamanku di jakarta, di saat pulang kantor waktu kerja praktek dulu. Sebagai pelanggan angkutan yang melewati jalur yang disebut busway, tentu saja sudah akrab dengan keterlambatan, desak-desakan, kepanasan, dan tentu saja emosi tinggi. Dengan kondisi lelah dan jenuh setelah bekerja seharian, seseorang dipaksa berdiri lama menunggu bus yang tak kunjung datang. Jujur saja rasanya emosi ku sudah mau meledak saja, bayangkan menunggu hampir 3 jam di dalam pengapnya halte itu. Di tengah kegalauan itu, mendadak, ntah darimana asalnya, muncul keinginan untuk tersenyum. Ditengah-tengah kumpulan orang yang penuh emosi, aku pun membentuk senyum di bibirku. Dan seketika dunia pun berubah warna *ceilah*.. Otot-otot muka dan badan yang sudah tegang itu melemas, dan kemudian memunculkan energi baru. Badan yang sudah bungkuk lelah, tegak kembali. Rasa lelah yang terasa membebani itu seakan menghilang. Malam hari kota besar yang buram itu pun berubah cerah. Aku pun terheran-heran sendiri.
Ditengah kumpulan energi baru itu, aku melihat-lihat sekitarku. Di seberang jalan, dibawah jembatan penyeberangan, anak-anak kecil yang mencari uang dengan mengamen dipinggir jalan itu sedang menghitung pendapatan mereka, senyum dan tawa mengembang di wajah mereka dan saling ber-high five dengan sesamanya. Ya, mereka saja tersenyum. Ku alihkan pandangan ke orang-orang disampingku. Lelah penjaga halte yang terlihat sudah berkali-kali menjawab pertanyaan calon penumpang kapan bus akan datang dan mengatur mereka-mereka yang tak mau diatur, dan diapun tersenyum melihatku tersenyum, sambil ku katakan “sabar ya mas..”, diapun tertawa dan terlihat bersemangat kembali. Lalu tampang jenuh seorang pemuda, dan teman wanitanya. Tak sengaja pandangan kami bertemu, dan ntah kenapa, mungkin aneh melihatku senyum-senyum sendiri, mereka pun tersenyum. Dan obrolan kami pun mengalir, dari menertawakan lamanya bus datang, hingga saling menyemangati dalam menunggu bus itu, yang memang akhirnya datang juga. Alhamdullillah. Sepanjang perjalanan ada saja hal-hal unik, aneh, lucu terjadi. Dan satu jam kemudian berakhirlah perjalananku dengan menjatuhkan punggung di kasur empuk, 4 jam setelah memulai langkah dari kantor tadi, sambil tetap tersenyum dan sekali lagi berucap Alhamdulillah.
Suatu pengalaman yang membuatku tau akan kekuatan senyuman yang mampu merubah dunia seseorang, dan mempengaruhi lingkungannya. Yang juga membuatku mampu menghadapi hari-hari saat dimana aku seakan kehilangan duniaku. And since that day, i always try to wear a smile. Since smile brighten my day, since smile do light up the day.
Don’t cry because it’s over; smile because it happened. – Sarah Ackerman;
Smiling makes you feel better about yourself, even if you don’t feel like it. – Lauraine Snelling;
A smile can brighten the darkest day. ~Author Unknown
Tapi apakah kita harus memasang senyum setiap saat? Kebanyakan orang akan menganggap dia sebagai mentally unstable
. or does it mean that occasionally we should force a smile? Forcing a smile is putting on an act and not being oneself. I think that it’s best that we be who we are than act who we are not. Soo, yang terbaik menurutku, let’s have a joy of living!
. That way we will not ever trying to force any smile anymore. That way, when we smile it’s natural and we aren’t putting on an act.
A smile is a light in the window of the soul, indicating that the heart is at home. ;
Everytime you smile at someone, it is an action of love, a gift to that person, a beautiful thing.;
A friendly look, a kindly smile, one good act, and life’s worthwhile.
Seperti bunga yang wangi, senyuman dapat menarik orang lain untuk melihat isi dirimu. Sebuah senyuman mempunyai kekuatan untuk memancarkan*hayah* kualitas that shows a beauty of oneself. Kualitas-kualitas seperti kindness, friendship, honesty, respect, patience, and self-control. Contohnya, saat aku masih duduk di lab, jenuh di depan komputerku, lalu seseorang yang kukenal dan kuhormati masuk, sambil memancarkan senyumnya. And, at that very time that very gentle smile light up my world..
. I love that smile
, and it’s gentleness and kindness it carry.
I love smile in general. Rasanya akan jauh lebih asyik bersama orang-orang yang selalu tersenyum dan tertawa apapun masalah yang dihadapi, daripada orang-orang yang selalu mengeluh dan emosi, untuk masalah yang sama. Seperti contohnya saat aku naik gunung burangrang dan jalan-jalan ke pulau sempu kemaren, aku bersama orang-orang tim hore yang selalu always ceria, tak pernah never, padahal nyasar, terus di hantem ujan n angin kuenceng, and many other probs. And, what happens then is that trips are my best trips ever. a truly precious memories. hope to been in trip again with you guys,, errr,, and gals..
.
Sooo, why don’t you try to smile too? it’ll make me know your feelings, and could decide what should i do.. *loh? tentang opo iki? Yes, you.. Siapapun yang baca tulisan ini. Buat Indonesia dan dunia yang sudah kekurangan senyuman ini menjadi lebih indah. Spread the joy you have while you smiling
. Let the world and the people and you yourself be at peace, with smile.
With that being said, sampailah kita di akhir perjumpaan kita pada episode kali ini *udah bingung mo nulis apa lagi hahahaa*, tulisan yang niat awalnya mau curhat ini malah jadi tulisan berjudul seperti diatas. Judul yang baru kutambahkan di akhir tulisan ini hahaa. Akhirnya blog ini bisa di update jugah.. fyuuhh.. yang penting, i need your comments n inputs, ok?
.
« Evaluasi 2009, Resolusi 2010 travel report : rafting sungai palayangan pangalengan »


Betul betul ka, smile memang powerful. Pernah ga jadi nangis gara2 senyum sendiri.. Untung ga ada yang liat hihihi..
Pernah juga liat teman yang ceria pas Karin lagi capeeeeeekk, langsung hilang capeknya, suerr
Trus di lab juga ada tuh ka, lagi pusing coding, eh ada yg terbahak2 nonton anime di pojokan. Jadi tambah konsen nelesain TA
Nice article, senyum lagi deh
“hadapi dengan senyuman
semua yang terjadi biar terjadi
hadapi dengan tenang jiwa
semua kan baik – baik sajah”
Dewa19- Hadapi Dengan Senyuman
@karin : itu ngomongin siapa ya..? aku ya?
… hihihi…
@dhika : hohoho ternyata ada ya lagu dewa yang seperti itu hihi..